Human Rights Watch Desak Pemerintah RI Usut Tuntas Tewasnya Golfrid Siregar

Jakarta – Medanoke.com, Human Rights Watch meminta dan menekankan Pemerintah Indonesia dan pihak berwenang, untuk segera mengusut tuntas tewasnya seorang aktiviss lingkungan dan kuasa hukum Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumut, Golfrid Siregar di Jalan Abdul Haris Nasution, Medan, Sumatera Utara, yang diduga tidak wajar.

Golfrid pertama sekali ditemukan oleh seorang penarik becak saat tengah malam, tanggal 3 Oktober 2019, dengan kondisi pingsan dan terluka parah, dipersimpangan Titi Kuning, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara, dan membawanya kerumah sakit Mitra Sejati, yang tidak jauh dari lokasi ia ditemukan.

Setelah sempat dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan untuk mendapatkan perawatan lebih intensif lagi, akhirnya nyawa penggiat lingkungan hidup ini tidak tertolong lagi, ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 6 Oktober 2019. Pihak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan mendiagnosa korban meningga akibat cedera cukup hebat dibagian kepala. Namun tidak hanya nyawanya yang tidak tertolong, nahasnya lagi, barang barang pribadi korban, seperti telepon selular, Laptop dan cincin kawinnya turut raib.

Menanggapi peristiwa tragis ini, Peneliti senior Human Rights Watch, Andreas Harsono menyatakan kecurigaanya atas kematian yang tidak wajar dari korban, “Kematiannya dalam keadaan yang mencurigakan menuntut penyelidikan yang cepat dan menyeluruh dari semua yang terlibat.” Ungkapnya. Menurut Andreas, kematiannya ini tidak lepas dari sepak terjangnya sebagai aktivis “Golfrid Siregar adalah seorang pengacara lingkungan dan aktivis akar rumput yang telah mengabdikan hidupnya untuk melindungi hutan hujan Sumatra dan membantu penduduk desa melindungi tanah mereka,” ujarnya.

Golfrid Siregar, 34, mewakili Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Forum Indonesia untuk Lingkungan Hidup Indonesia, kelompok gugatan lingkungan terbesar di Indonesia, dalam gugatan terhadap gubernur Sumatera Utara atas persetujuannya pada 2017 untuk pembangunan bendungan hidroelektrik Batang Toru senilai US $ 1,5 miliar. Walhi berpendapat bahwa proses penerbitan izin bermasalah dan mengajukan banding dua putusan pengadilan sebelumnya mereka telah hilang. Dia juga telah mencari tindakan hukum terhadap polisi dalam masalah terkait karena dugaan kegagalan mereka untuk menanggapi keluhan secara memadai.

Diketahui sebelumnya pada malam tanggal 2 Oktober, Golfrid Siregar sempat mengunjungi rumah pamannya di Medan, bermain Catur dan minum teh. Setelah pamit pulang kerumah. salah seorang kerabat memastikan ia pergi dengan sepeda motor sekitar pukul 11 malam. Sementara itu dari rekaman CCTV rumah sakit Mitra Sejati, Jalan Abdul Haris Nasution, menunjukkan saat korban tiba di rumah sakit pada pukul 01:12 pagi, tanggal 3 Oktober. Sedangkan si penarik becak dan dua orang yang turut menemaninya, meninggalkan rumah sakit tersebut dua menit kemudian.

Sementara itu polisi kemudian melaporkan bahwa laptop, dompet, kartu ID, ponsel, dan cincin pernikahan milik korban hilang ditempat kejadian, sehingga menyulitkan petugas untuk mengungkap identitas korban. Namun pada pukul 11 pagi tanggal 3 Oktober 2019, Polisi akhirnya berhasil menemukan sepeda motor korban.

Direktur Walhi Sumatera Utara mengatakan kepada media bahwa korban mengalami cedera kepala serius, bengkak di mata kanan, dan tanda biru, mungkin memar internal, di tangan kirinya.

Kepergian Golfrid Siregar yang dirasa tidak wajar ini, selain menimbulkan berbagai spekulasi, juga meninggalkan kepedihan yang sangat mendalam bagi keluarga dan kerabat, terlebih lagi baig sang istri, Resmi Barimbing, dan seorang bayi perempuan mereka, Velycia.

Polisi setempat awalnya mengklaim bahwa Siregar terluka dalam kecelakaan lalu lintas. Tetapi keluarganya dan Walhi telah menyampaikan kekhawatiran dan dugaan bahwa korban dibunuh, hal ini berdasarkan pengelihatan bahwa motornya tidak rusak dan tidak memiliki tanda aspal bekas kecelakaan lalulintas. Ditambah lagi kedua kaki dan tangannya tidak memiliki luka atau luka khas yang biasa terjadi dalam kecelakaan lalu lintas.

Kepolisian Daerah Sumatera Utara mengatakan kepada wartawan bahwa mereka sekarang sedang melakukan otopsi. Pada 10 Oktober, polisi menangkap pengemudi becak dan dua pria lainnya yang sempat membawa korban ke rumah sakit, karena diduga mengambil harta benda Golfrid Siregar setelah kecelakaan lalu lintas.

Rekan-rekan Walhi mengatakan bahwa Siregar telah menerima beberapa ancaman sejak mereka mengajukan gugatan terhadap pembangunan bendungan Batang Toru pada Agustus 2018 meskipun ancaman itu mungkin telah berhenti selama empat hingga enam minggu terakhir. Siregar juga mengambil bagian dalam kasus hukum mengenai dugaan tanda tangan palsu dalam laporan penilaian lingkungan bendungan Batang Toru. Dia juga terlibat dalam litigasi Sumatera Utara kontroversial lainnya, membela penduduk desa terhadap perusahaan beton di Siantar, membantu penduduk desa di Kabupaten Karo atas pembalakan liar, dan membantu para nelayan di Pantau Labu bersaing dengan perusahaan pasir.

“Sifat kematian Siregar dan ancaman yang diterimanya menimbulkan banyak peringatan,” kata Harsono. “Semua yang peduli tentang lingkungan Indonesia akan mengawasi pihak berwenang untuk memastikan bahwa investigasi yang kredibel terjadi dan bahwa setiap kejahatan yang terkait dengan kematiannya dituntut dengan tepat.”(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *