
Medan, medanoke.com | Saharuddin Koordinator Nasional Gerakan Rakyat Berantas Korupsi GERBRAK, yang sekaligus Ketua Umum Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) telah tiba di Pekanbaru, Riau pada hari ini ,Rabu (31/12/2025).
Kedatangan Saharuddin adalah dalam rangka mengupayakan pembebasan seorang warga Kota Medan yang diduga masih disekap dan dipaksa bekerja disebuah kafe remang-remang, di daerah Kampar Riau.
Melalui telpon WhatsApp kepada awak media, Saharuddin mengatakan bahwa langkah selanjutnya yang akan dirinya ambil saat ini adalah menunggu orang tua korban yang sebelumnya berhasil meloloskan diri dari sekapan, yaitu Nezza Syafitri Nasution ibu dari Nabila Aisyah (17) dan keluarga dari Nia Permata Sari Simatupang (18), yaitu gadis lainnya yang diduga masih disekap di kafe remang-remang milik seseorang bernama Ririn.
“Saya menunggu orangtua dan keluarga korban untuk tiba disini dulu bang, karena mereka bersama Rahmadsyah (seorang wartawan) di Medan dan rekan-rekan, sedang mengupayakan ongkos, juga biaya mereka selama perjalanan kesini,” ujar Saharuddin dengan nada sedih.
Saharuddin melanjutkan bahwa sejauh ini para pihak terkait terkesan abai, dan terkesan sepele dalam menanggapi kasus TPPO ini. Padahal ini menyangkut kehormatan, dan nyawa manusia. Ini juga mungkin bisa jadi pintu untuk membuka masalah-masalah hukum hingga ke jaringan perdagangan orang yang terstruktur masif dan berbahaya.
Saharuddin menyayangkan trend terkini di negara ini, dimana pejabat berwenang selalu terlambat hadir, sehingga rakyat lah yang harus menolong rakyat.
“Walikota medan melalui dinas terkait saya nilai tidak mampu melindungi warganya, DPRD kami usul agar mengevaluasi dan gelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait masalah ini,” sambung Saharuddin.
Terpisah, kepada wartawan, Rahmadsyah yang aktif dalam membantu mencarikan bantuan bagi keluarga korban di Medan, untuk bergerak ke Pekanbaru demi mencari anak mereka, mengatakan bahwa dirinya seperti membentur tembok.
“Kami sudah mengadu ke Lurah, Camat, dan ke berbagai Dinas, tapi semuanya mencueki,” kesal Rahmad.
Padahal menurut Rahmad sudah seharusnya pemerintah lebih proaktif dalam menangani kasus-kasus seperti ini.
“Kita tidak tahu apa yang dialami anak itu sekarang, dimana dia harus mempertahankan kehormatannya sebagai perempuan, di lokasi hiburan malam, di tempat tidak ada satu orangpun untuk mengadu,” sambung Rahmad dengan nada kesal.
Adapun para gadis di bawah umur ini menjadi target sindikat tindak pidana perdagangan orang (TPPO) melalui media sosial. Dimana para pelaku menawarkan pekerjaan di Pekanbaru dengan iming-iming gaji menggiurkan perbulannya.
Pihak Kepolisian di Pekanbaru memang berhasil memulangkan satu orang korban dugaan TPPO ini, tapi sejauh ini belum ada pelaku yang berhasil ditangkap.
Gabungan Awak Media Medan Bersatu (GAMMB) pun memprakarsai gerakan ini untuk menyelamatkan satu orang lagi gadis dibawah umur yang diduga masih disekap, yaitu Nia Permata Sari. (Red)