
Medan, medanoke.com | Warga Jalan Brigjen Zein Hamid, Gang Manggis, Kelurahan Titi Kuning, Kecamatan Medan Johor, mengaku sudah lama mengalami gangguan pasokan air dari PDAM. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga memperlihatkan persoalan serius dalam kualitas pelayanan publik di sektor air bersih.
Kepada wartawan, seorang warga mengungkapkan bahwa air PDAM biasanya mati sejak pukul 06.00 pagi dan baru kembali mengalir sekitar pukul 23.30 malam. Pola ini, menurut warga, terjadi hampir setiap hari dan telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Akibatnya, warga terpaksa begadang hingga tengah malam hanya untuk menampung air menggunakan ember atau wadah seadanya demi mencukupi kebutuhan rumah tangga keesokan harinya.
“Air baru mengalir saat orang sudah bersiap tidur. Jadi kami terpaksa menunggu sampai malam untuk menampung air,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Keluhan serupa juga disampaikan seorang ibu rumah tangga di wilayah sama yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, memasak, dan mencuci.
Ironisnya, kondisi tersebut terjadi meskipun warga tetap membayar iuran PDAM secara rutin setiap bulan. Dan bukan cuma di wilayah ini saja terjadinya tapi juga di berbagai wilayah di Kota Medan. Hasil penelusuran di lapangan, di wilayah Lingkungan I, Kelurahan Kota Matsum I, Kecamatan Medan Area, apa yang dirasakan warga tertulis diatas juga turut dirasakan warga di sini.
Selain itu masih banyak lagi kasus serupa di berbagai pelosok Sumatera Utara, warga menyampaikan kepada awak media bahwa mereka berharap ada langkah nyata dari pihak pengelola air minum untuk memperbaiki distribusi serta meningkatkan kualitas pelayanan agar kebutuhan air bersih dapat terpenuhi secara layak.
Kritik Ombudsman: PDAM Bukan Perusahaan Pencari Untung
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Sumatera Utara, Herdensi Adnin, menyampaikan kritik tajam terhadap pelayanan PDAM. Ia menegaskan bahwa prinsip paling mendasar dari perusahaan air minum daerah adalah pelayanan kepada masyarakat, bukan sekadar mengejar keuntungan.
“Kami sudah memitigasi banyak keluhan masyarakat terkait PDAM. Persoalan yang paling mendasar ada dua, yaitu distribusi air dan kualitas air yang diterima pelanggan,” ujar Herdensi kepada wartawan, Kamis (5/3/2026).
Distribusi Air Dinilai Tidak Normal
Menurut Herdensi, salah satu persoalan paling mendasar adalah pola distribusi air yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Air justru sering mengalir pada waktu yang tidak wajar, seperti tengah malam hingga dini hari.
“Air sering mengalir hanya pada malam hari, kemudian pagi sudah mati. Padahal justru pada pagi hingga siang hari masyarakat membutuhkan air untuk beraktivitas,” katanya.
Ia menegaskan, apabila terjadi gangguan distribusi seperti kebocoran pipa atau kerusakan jaringan, PDAM seharusnya segera menyediakan alternatif pelayanan, misalnya dengan mendistribusikan air menggunakan mobil-mobil tangki langsung ke permukiman warga.
“Masyarakat sudah menjalankan kewajibannya dengan membayar tagihan. Maka sudah seharusnya PDAM memenuhi hak mereka sebagai pelanggan,” tegasnya.
Lebih jauh, Herdensi juga menyoroti minimnya transparansi dari pihak PDAM kepada pelanggan. Dalam banyak kasus, air tiba-tiba mati tanpa pemberitahuan resmi kepada masyarakat.
“Kadang tanpa pengumuman air sudah mati. Lalu mengalir pukul satu dini hari saat orang sudah tidur, dan ketika masyarakat bangun pukul lima pagi airnya sudah mati kembali,” ujarnya.
Kualitas Air Jadi Pertanyaan
Selain distribusi, persoalan lain yang tidak kalah serius adalah kualitas air yang diterima masyarakat.
Sebagai perusahaan penyedia air minum, PDAM seharusnya memastikan air yang disalurkan memenuhi standar kesehatan, sesuai namanya, yaitu Perusahaan Daerah Air Minum, bukan Perusahaan Daerah Air Mencuci, atau Air Mandi.
Menurut Herdensi, air yang mengalir ke rumah-rumah seharusnya jernih, tidak berbau, serta bebas dari mikroba maupun zat kimia berbahaya.
Namun kenyataannya, banyak warga mengeluhkan air yang mengalir ke rumah mereka sering dalam kondisi keruh dan berbau.
“Keluhan masyarakat hampir selalu sama. Air yang mengalir sering keruh dan berbau. Jangankan untuk diminum, untuk mandi dan mencuci saja kadang masih diragukan kualitasnya,” ungkapnya.
Masalah yang Berlarut
Herdensi menilai persoalan pelayanan air bersih ini bukan kasus baru. Keluhan serupa telah lama muncul di berbagai wilayah di Kota Medan dan sekitarnya, mulai dari Medan Utara, Tembung, Helvetia, hingga kawasan lain.
Karena itu, ia berharap manajemen baru perusahaan air daerah di Sumatera Utara mampu melakukan pembenahan menyeluruh, baik dari sisi manajemen distribusi, kualitas air, maupun respons terhadap keluhan masyarakat.
“Miris jika melihat perusahaan air dari luar bisa berkembang dan memberikan pelayanan baik, sementara perusahaan air milik daerah kita justru terkesan hidup segan mati tak mau,” ujarnya.
Ia menegaskan, momentum perubahan manajemen seharusnya menjadi titik awal bagi PDAM untuk menghadirkan terobosan nyata yang mampu memulihkan kepercayaan publik.
“Ini persoalan lama yang terus berlarut tanpa solusi yang jelas. Masyarakat tentu berharap ada perubahan nyata,” tutup Herdensi.(Pujo)






