
Medan, medanoke.com | Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) terjadi di Kota Medan, memicu antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Fenomena ini terpantau di beberapa titik, di antaranya SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Denai, serta Jalan Menteng Raya simpang Jalan Menteng 7, pada Selasa (31/3/2026) malam. Antrean kendaraan bahkan terlihat mengular hingga ke badan jalan, mengganggu arus lalu lintas.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait penyebab kelangkaan BBM tersebut. padahal, kondisi ini terjadi di tengah pernyataan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, yang menegaskan tidak ada kenaikan harga BBM meski situasi geopolitik di Timur Tengah masih memanas.
Ketua DPW Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa Sumatera Utara (FABEM Sumut), Rinno Hadinata, menilai kelangkaan BBM di Medan menunjukkan ketidaksiapan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dalam mengantisipasi dampak krisis global.
“Ini bukti lemahnya manajemen Pertamina dalam menyikapi eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dampaknya bisa mengganggu ketahanan energi, yang menjadi bagian dari visi besar pemerintah,” ujar Rinno di Medan.
Ia mendesak Pertamina segera memberikan klarifikasi terbuka kepada publik terkait kondisi tersebut, terlebih setelah adanya pernyataan pemerintah bahwa harga BBM tetap stabil.
“Kami berharap Pertamina berani angkat bicara. Jika tidak, wajar publik mencurigai adanya permainan internal yang menyebabkan kelangkaan ini. Fakta di lapangan, antrean kendaraan terjadi hampir di seluruh SPBU malam ini,” tegasnya.
Lebih jauh, Rinno juga meminta pemerintah pusat segera melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem tata kelola minyak dan gas nasional.
“RUU Migas yang saat ini sudah berada di tangan pimpinan DPR RI harus segera disahkan. Ini penting untuk memperbaiki sistem pengelolaan dan distribusi energi agar kejadian serupa tidak terus berulang,” pungkasnya.(**)





