Medan, medanoke.com | Di negeri yang tak pernah kehabisan slogan tentang pemulihan ekonomi, pelaku usaha justru kehabisan waktu karena harus mengantre Bahan Bakar Minyak (BBM). Mesin usaha tetap hidup, tetapi lajunya tersendat di depan pompa bensin.
Fenomena kelangkaan BBM yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Medan dan beberapa daerah di Sumatera Utara kini bukan lagi sekadar persoalan pengendara. Dampaknya mulai merembet ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang selama ini disebut-sebut sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Ironisnya, ketika berbagai seminar terus menggaungkan pentingnya digitalisasi, efisiensi, dan peningkatan daya saing UMKM, banyak pelaku usaha justru menghabiskan jam kerjanya bukan untuk melayani pelanggan atau memperluas pasar, melainkan berdiri sabar dalam antrean kendaraan demi mendapatkan beberapa liter BBM.
Founder Classpreneur Indonesia sekaligus pebisnis, Erri Manto Damanik, mengaku kondisi tersebut telah mengganggu operasional para pelaku usaha secara langsung.
“Kelangkaan BBM di sejumlah SPBU sangat berdampak terhadap aktivitas usaha kami. Banyak waktu operasional terbuang hanya untuk mengantre BBM, sehingga distribusi barang terlambat dan produktivitas usaha menurun,” ujar Erri, Selasa (14/7/2026).
Persoalan tidak berhenti di situ. Ketika satu SPBU kehabisan stok, kendaraan harus berkeliling mencari SPBU lain yang masih memiliki BBM. Akibatnya, biaya operasional meningkat, sementara produktivitas terus menurun.
Dalam logika bisnis, waktu adalah uang. Namun dalam situasi seperti sekarang, waktu berubah menjadi antrean, sedangkan uang perlahan habis bersama bahan bakar yang semakin sulit diperoleh.
Menurut Erri, apabila kondisi ini terus berlangsung, pelaku UMKM akan menghadapi tekanan yang semakin berat.
“Kondisi ini tentu menambah biaya operasional. Jika terus berlanjut, akan memengaruhi arus kas pelaku UMKM dan menurunkan daya saing usaha. Padahal UMKM sangat bergantung pada kelancaran distribusi untuk menjaga kepercayaan pelanggan,” katanya.
Ia berharap Pertamina bersama pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk menormalkan distribusi BBM di seluruh SPBU.
“Kepastian distribusi energi sangat penting. Kami berharap pasokan BBM segera kembali normal sehingga roda perekonomian, khususnya sektor UMKM, dapat berjalan tanpa hambatan,” tegasnya.
Beberapa hari terakhir, antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Medan dan berbagai wilayah Sumatera Utara. Pemandangan ini seolah menjadi rutinitas baru: mesin kendaraan dimatikan, tetapi mesin ekonomi ikut melambat.
Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyatakan terus mengoptimalkan penyaluran BBM dan melakukan pemantauan intensif terhadap stok serta distribusi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Publik tentu berharap optimasi itu segera terasa di lapangan. Sebab, bagi pelaku UMKM, yang dibutuhkan bukan sekadar kepastian bahwa distribusi sedang diupayakan, melainkan kepastian bahwa ketika mereka tiba di SPBU, yang mereka temui bukan lagi papan bertuliskan “BBM Habis”, melainkan nosel yang benar-benar bisa mengisi tangki—dan menggerakkan kembali roda usaha yang sempat tertahan di ujung antrean.
Terpisah, Comrel Pertamina (Communication, Relations, & CSR) atau bagian Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan saat dikonfirmasi oleh wartawan belum memberikan komentar.(Pujo)
Para anak-anak kelas 1, saat diberikan bimbingan oleh guru dalam MPLS, hari pertama sekolah di…
Medan – medanoke.com, Dalam rangka memperkuat sinergitas kelembagaan serta membangun kolaborasi yang semakin erat dengan…
Medan, medanoke.com | Paguyuban Jawa Nusantara Bersatu (PUJAKETARUB) Provinsi Sumatera Utara terus memperkuat konsolidasi organisasinya.…
Medan, medanoke.com | Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Sumatera Utara mendesak PT Pertamina Patra Niaga Regional…
Medan, medanoke.com | Jambore Daerah (Jamda) XI Gerakan Pramuka Sumatera Utara resmi berakhir pada Minggu,…
Kepala Sekolah SD Negeri 118194 Pulo Gambut I, Desa Sukarame Baru, Romauli Samosir SPd saat…
This website uses cookies.