
Nias selatan, medanoke.com | Bencana alam berupa banjir bandang yang melanda wilayah Tapteng, Tapsel, dan Taput, serta kota Sibolga Sumatera Utara merenggut ratusan nyawa warga.
Selain merenggut ratusan nyawa, bencana ini juga berdampak pada infrastruktur. Bahkan infrastruktur pada sarana komunikasi juga menjadi rusak.
Di wilayah kabupaten Nias selatan sudah 8 hari jaringan Wi-fi tidak berfungsi dan masih tahap perbaikan, sementara jaringan data seluler sudah berfungsi Dua hari yang lalu, walaupun dengan kualitas sangat sangat rendah, sinyalnya hilang-hilang timbul menurut warga.
Selain itu, pantauan medanoke.com di lapangan Kamis, (4/12) sejumlah bahan sembako harganya meroket. Seperti harga cabai rawit di harga Rp.135.000-150.000 dari harga Rp.60.000/kg, harga telur satu papan di harga Rp.95.000 dari harga semula Rp.55.000. Harga Gas Elpiji juga tak luput harganya meroket dari harga Rp.20.000 ke harga Rp.30.000.
Selain itu, beras yang merupakan kebutuhan pokok sudah langka di pasaran bahkan sejumlah toko/kedai penjual beras tutup karena kehabisan stok.
Ina Anton (45 tahun) Salah seorang penjual sembako yg berhasil di wawancarai oleh medanoke.com mengatakan, “kami nggak berani buka toko kami karena nggak ada lagi stok beras, kami takut di serbu pembeli tetapi barang nya nggak ada, kami sudah pesan barang dari Medan tetapi nggak bisa tembus karena jalan antara tarutung -sibolga masih putus, demikian juga jalan dari arah padang Sidempuan ke sibolga masih belum bisa di lalui oleh kendaraan besar,” tutur Ina Anton.
Salah seorang warga Nias Selatan ama Yove Laia (35 tahun) yang juga memiliki usaha warung makan mie mengeluh karena meroketnya harga sembako ini di Nias selatan, dirinya berharap pemerintah pusat secepatnya memulihkan kondisi infrastruktur yang terputus dan fasilitas akses komunikasi dapat segera di pulih kan kembali.
“Khusus nya kepada pemerintah Nias selatan di bawah kepemimpinan Soʻkhiatuloʻ Laia, agar dapat melakukan “operasi pasar (pengawasan harga)” karena adanya dugaan para penggalas dan pedagang sengaja menaik kan harga di luar dari kemampuan warga”, tutur Laia. (RDH)






