
Medan, medanoke.com | Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Kota Medan dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir menimbulkan antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kondisi ini memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat, termasuk isu mengenai mogok kerja dan pemecatan ratusan sopir mobil tangki Pertamina.
Meski gangguan distribusi BBM juga dirasakan di sejumlah wilayah sekitar Medan, dampak paling parah terjadi di Kota Medan. Antrean kendaraan terlihat lebih panjang dan kepadatan di SPBU lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara meminta penjelasan dari Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terkait penyebab terganggunya distribusi BBM di wilayah tersebut.
Setelah sekitar dua jam menjalani pemeriksaan, pada Rabu 22/7/2026, sekitar pukul 12.00 WIB, beberapa perwakilan Pertamina terlihat keluar dari kantor Ombudsman. Saat dikonfirmasi wartawan, pihak Pertamina menyatakan telah menyampaikan keterangan dan penjelasan kepada Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara. Pertamina juga meminta awak media untuk mengutip keterangan yang telah disampaikan kepada Ombudsman tersebut.
Berdasarkan informasi yang diterima awak media dari pihak Ombudsman, Pertamina telah memberikan penjelasan mengenai sejumlah faktor yang memengaruhi distribusi dan antrean BBM di Medan.
Menurut keterangan yang diterima Ombudsman dari Pertamina, tidak ada pemecatan ratusan sopir mobil tangki sebagaimana isu yang beredar di masyarakat. Namun, terdapat pemutusan hubungan kerja terhadap 15 orang yang bertugas sebagai supporter pengisian BBM.
Selain itu, Pertamina juga menyampaikan bahwa terjadi peningkatan permintaan BBM dari bulan Juni ke Juli sekitar lima hingga enam persen. Peningkatan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa liburan.
Pihak Ombudsman juga menerima penjelasan bahwa pada periode liburan tahun sebelumnya pernah terjadi lonjakan permintaan BBM sekitar tiga hingga empat persen. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan pasokan di sejumlah SPBU.
Faktor lain yang turut disampaikan adalah tata letak atau layout beberapa SPBU yang kurang ideal, sehingga kendaraan yang hendak mengisi BBM harus mengantre lebih panjang dan menimbulkan kepadatan di area pengisian.
Selain itu, Pertamina menjelaskan adanya disparitas harga antara jenis BBM subsidi dan non-subsidi, seperti Pertalite dengan Pertamax, serta Solar dengan Dexlite. Perbedaan harga tersebut menyebabkan sebagian besar pengendara lebih memilih BBM yang lebih murah, sehingga terjadi peningkatan permintaan pada Pertalite dan Solar.
Untuk mengatasi kelangkaan dan antrean panjang di Medan, Pertamina disebut telah mengambil sejumlah langkah, antara lain menggantikan 15 orang supporter pengisian BBM yang diberhentikan, serta menambah kuota BBM untuk Kota Medan dengan mengalihkan pasokan dari beberapa titik lain ke wilayah tersebut.
Meski demikian, pihak Ombudsman menegaskan bahwa penjelasan yang diterima dari Pertamina masih merupakan bagian dari tahap pemeriksaan awal. Ombudsman belum dapat memberikan kesimpulan terkait penyebab utama kelangkaan BBM di Kota Medan dan sekitarnya, karena masih ada beberapa tahapan verifikasi dan investigasi yang harus dilakukan sebelum hasil akhir disampaikan secara resmi. (Pujo)