Medan, medanoke.com | Minggu pagi, 19 Juli 2026, Rakan Kuphi di Jalan Gagak Hitam No. 114, Sei Sikambing B, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, menjelma menjadi ruang penuh cerita. Bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi juga panggung kenangan bagi para alumni Yayasan Pendidikan Al-Masruriyah lintas generasi yang kembali dipertemukan setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan masing-masing.

Sejak langkah pertama memasuki ruangan, senyum hangat dan pelukan akrab langsung menyambut. Wajah-wajah yang dahulu begitu akrab di lorong sekolah kini tampak lebih dewasa, sebagian telah dihiasi garis waktu. Namun, ketika nama lama dipanggil dan tawa lama kembali terdengar, jarak puluhan tahun seolah menghilang begitu saja.
Di antara keramaian itu, satu sosok menjadi pusat perhatian: Umi Afrahul Fadilah, mantan kepala sekolah Yayasan Pendidikan Al-Masruriyah. Matanya berkaca-kaca menahan haru saat bertemu kembali dengan para guru yang dahulu menjadi bawahannya di yayasan tersebut. Lebih dari itu, ia juga tampak tersentuh melihat para murid yang dulu diasuhnya kini telah tumbuh dewasa, bahkan sebagian telah menua bersama perjalanan waktu.
“Melihat mereka semua berkumpul kembali adalah kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata,” ujar salah seorang alumni yang turut hadir, sembari menatap panggung dengan mata berbinar.

Acara dibuka dengan doa bersama, menghadirkan suasana khidmat yang mengingatkan semua orang pada nilai-nilai kebersamaan yang dulu ditanamkan di lingkungan Al-Masruriyah. Setelah itu, Umi Afrahul Fadilah menyampaikan sepatah dua kata yang sederhana, namun sarat makna. Ucapannya bukan hanya sambutan, melainkan ungkapan kasih seorang pendidik kepada anak-anak didiknya yang kini kembali pulang ke rumah kenangan mereka.

Momen pemotongan nasi tumpeng menjadi simbol rasa syukur atas terselenggaranya reuni lintas generasi ini. Tumpeng yang dipotong bersama seolah menandai bahwa kebersamaan yang pernah terjalin di masa sekolah masih tetap utuh, meskipun waktu telah membawa setiap orang ke jalan hidup yang berbeda.
Setelah sesi foto bersama yang penuh gelak tawa, suasana berubah menjadi lebih mengharukan. Para guru duduk di atas panggung, sementara para alumni bergiliran menyalami mereka. Setiap jabat tangan bukan sekadar sapaan, tetapi juga bentuk penghormatan dan rasa terima kasih atas ilmu, nasihat, dan kasih sayang yang pernah diberikan.
Tak sedikit alumni yang menundukkan kepala dengan hormat, seolah kembali menjadi murid kecil yang dulu duduk di bangku kelas. Di saat itulah, hubungan antara guru dan murid terasa begitu abadi—tidak lekang oleh usia, tidak pudar oleh jarak.

Keceriaan kembali memenuhi ruangan saat sesi makan siang dimulai. Para alumni berkumpul bersama teman-teman seangkatan, berbagi kabar tentang keluarga, pekerjaan, dan perjalanan hidup masing-masing. Cerita-cerita lama kembali dihidupkan: tentang kenakalan masa sekolah, tugas yang terlupa, hingga tawa yang dulu memenuhi halaman Al-Masruriyah.
Reuni ini bukan hanya tentang bertemu kembali. Ia adalah perjalanan pulang menuju kenangan, tempat setiap orang menyadari bahwa persahabatan dan penghormatan kepada guru adalah harta yang tetap hidup, meskipun waktu terus bergerak maju.
Di penghujung acara, para alumni meninggalkan Rakan Kuphi dengan senyum yang sama seperti saat mereka datang, namun dengan hati yang lebih penuh. Reuni lintas generasi Al-Masruriyah telah membuktikan bahwa kenangan masa sekolah bukanlah sesuatu yang tertinggal di masa lalu, melainkan cahaya yang terus menghangatkan langkah hingga hari ini. (Pujo)