Opini : Jupri
Pengamat Sosial Politik
Tebingtinggi, medanoke.com | Sabtu 10 januari 2026, saya menghadiri Pelantikan Pengurus Persatuan Islam (Persis) Kota Tebing Tinggi. Sebuah agenda organisasi yang formal, namun bagi saya justru menjadi pemantik ingatan panjang membawa saya kembali ke tahun 1992, masa ketika benih dakwah, bacaan, dan kesadaran keumatan mulai tumbuh secara alamiah dalam diri saya.
Ingatan itu tertambat pada sosok Pak Ibrahim, seorang tetangga yang kelak saya pahami bukan sekadar ustadz, tetapi pendidik kehidupan. Beliau adalah kader Muhammadiyah, aktivis Dewan Dakwah, sekaligus bagian dari Persis. Di masa itu, saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang aneh. Justru kini saya sadar, di tengah kecenderungan saling mencurigai antar-ormas, sosok seperti Pak Ibrahim adalah potret persatuan yang hidup.
Pak Ibrahim berasal dari Kayu Tanam, Sumatera Barat. Beliau berdakwah dan beraktivitas di Pekanbaru, Riau, lalu berladang dan menetap di Pasaman Barat sejak 1991. Dakwah beliau tidak berhenti di mimbar. Ia hadir di ladang, di rumah, di obrolan sederhana, dan—yang paling membekas bagi saya—di rak bacaan.
Dalam usia yang masih sangat belia, saya diperkenalkan beliau pada dunia pemikiran melalui majalah dan buku. Suara Muhammadiyah, Media Dakwah, Panji Masyarakat, Al Muslimun, Suara Masjid, dan sejumlah bacaan lain menjadi jendela pertama saya memahami Islam sebagai gerakan ilmu, adab, dan tanggung jawab sosial. Sebagian majalah itu kemudian saya beli sendiri ketika sekolah di Ujung Gading, Pasaman. Sebagiannya masih saya simpan hingga hari ini di pustaka pribadi—sebagai saksi bisu proses pembentukan cara berpikir.
Dari Pak Ibrahim pula saya memahami bahwa relasi antara Muhammadiyah, Persis, dan Dewan Dakwah bukanlah relasi yang kaku atau penuh sekat. Ia adalah relasi ideologis yang bertemu pada titik yang sama: pemurnian akidah, pencerahan umat, dan tanggung jawab kebangsaan. Di atas simpul-simpul itu, ada satu nama yang selalu disebut dengan penuh hormat: Mohammad Natsir.
Melalui bacaan-bacaan itulah saya mengenal pemikiran tokoh-tokoh besar umat: Buya Hamka dengan keluasan adab dan kejernihan akalnya; Mohammad Natsir dengan kesederhanaan hidup, keteguhan prinsip, dan visi persatuan umat; Anwar Harjono, Ahmad Sumargono, KH Hasan Basri, serta tokoh-tokoh muda pada masanya seperti Amien Rais, Syafi’i Ma’arif, dan Yusril Ihza Mahendra.
Menariknya, mereka hadir bukan sebagai figur kultus. Tidak ada pengidolaan berlebihan. Yang ada adalah keteladanan berpikir. Mereka berbeda organisasi, berbeda gaya, bahkan kerap berbeda sikap politik, tetapi dipersatukan oleh kesadaran yang sama: umat dan bangsa jauh lebih penting daripada ego kelompok.
Di titik inilah, menghadiri pelantikan Persis hari ini terasa lebih dari sekadar memenuhi undangan organisasi. Ia menjadi semacam ziarah ingatan—tentang masa ketika dakwah diajarkan dengan keteladanan, perbedaan dikelola dengan kedewasaan, dan persatuan tidak perlu diteriakkan karena benar-benar dihidupi.
Pak Ibrahim mungkin tidak pernah menyebut dirinya tokoh pemersatu. Tetapi melalui beliau, saya belajar bahwa persatuan umat sering lahir dari figur-figur sunyi, jauh dari panggung, tetapi konsisten dalam laku. Dan melalui Pak Natsir, saya memahami bahwa kekuatan umat tidak lahir dari kemenangan dalam perdebatan, melainkan dari kesediaan untuk merawat kebersamaan dalam perbedaan.
Hari ini, ketika organisasi-organisasi Islam diuji oleh zaman, oleh politik, oleh godaan identitas sempit, dan oleh hasrat saling mengungguli, ingatan-ingatan seperti ini menjadi penting untuk dihadirkan kembali. Bukan untuk romantisme masa lalu, melainkan sebagai cermin: bahwa persaudaraan pernah nyata, pernah hidup, dan karena itu selalu mungkin untuk dihidupkan kembali.
Pelantikan PD Persis Kota Tebing Tinggi yang dilaksanakan oleh Ketua PW. Persatuan Islam (Persis) Sumatera Utara KH. Muhammad Nuh, hari itu pun bagi saya bukan sekadar peristiwa struktural. Ia adalah pengingat bahwa dakwah sejati selalu bertaut dengan keikhlasan, keluasan pandang, dan keberanian untuk menempatkan persatuan umat di atas segalanya.
Mudah-mudahan, di bawah kepemimpinan Saudara Muheri Abdullah , PERSIS Kota Tebing Tinggi tidak hanya berjalan sebagai organisasi yang tertib secara struktural, tetapi juga melahirkan kepemimpinan dan figur umat yang memahami Persis sebagai organisasi dakwah modernis Islam—yang teguh dalam prinsip, terbuka dalam pemikiran, dan relevan menjawab tantangan zaman.
Selamat berkiprah, PD. Persatuan Islam ( PERSIS ) Kota Tebing Tinggi.
Semoga langkah-langkah dakwahnya senantiasa menjadi cahaya bagi umat dan bagi Indonesia.
Medan - medanoke.com, Kajati Sumatera Utara Dr.Harli Siregar, SH.,M.Hum didampingi Wakajati Abdullah Noer Denny, SH.,MH…
Pihak pengelola Langkat Carnaval berdiri tanpa dilengkapi dengan standarisasi keamanan dalam permainan kapal naga. (Jhonson…
Mesin judi tembak ikan (ist) Medan, medanoke.com | Komitmen Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr Jean…
Darwis saat sedang menjalani pemeriksaan di Mapolsek Medan Helvetia. (Jhonson Siahaan) Medan, medanoke.com | Darwis…
Pelaku, Maratur Simanjuntak, saat menjalani pemeriksaan di Mapolsek Medan Timur. (Jhonson Siahaan) Medan, medanoke.com | …
Medan, medanoke.com | Warga Lingkungan I dan Lingkungan 2, Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia, mengeluhkan…
This website uses cookies.