Categories: Pendidikan

Dari “Profesor Berita” ke Guru Besar UINSU. Kisah Prof A3 Menaklukkan Dunia Akademik

Medan, medanoke.com | Ada yang menarik di tengah acara pengukuhan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Rabu (22/04/2026, yakni perjalanan panjang seorang anak kampung menapaki dunia ilmu hingga ke titik tertinggi  guru besar.

Di Gelanggang Mahasiswa H.M. Arsjad Thalib Lubis, Jalan IAIN/Sutomo Medan, suasana Sidang Senat Terbuka terasa penuh khidmat. Dipimpin Ketua Senat Pagar Hasibuan dan didampingi Rektor Nurhayati, pengukuhan itu menjadi saksi lahirnya seorang profesor di bidang Komunikasi Politik Islam. Ia adalah Anang Anas Azhar akran disapa A3.

Yang membuat momen itu lebih dari sekadar seremoni adalah gagasan yang ia bawa—sebuah kegelisahan akademik yang terasa sangat dekat dengan realitas politik hari ini.

Dalam pidato pengukuhannya bertajuk “Pencitraan Politik Islam: Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik Ala Islam”, Prof. Anang menguliti fenomena yang kian akrab di mata publik: politik pencitraan.

Ia tidak menampik bahwa dalam sistem demokrasi modern, pencitraan adalah bagian tak terelakkan. Namun, di titik itulah ia mengajukan pertanyaan mendasar—apakah citra dibangun dari integritas, atau sekadar rekayasa persepsi?

Menurutnya, dalam perspektif Islam, komunikasi politik tidak berdiri di ruang bebas nilai. Ia terikat pada prinsip moral, kejujuran, dan tanggung jawab. Mengutip spirit qaulan sadida, ia menegaskan bahwa setiap pesan politik harus lurus, benar, dan tidak menyesatkan.

Dalam konteks yang lebih luas, ia mengingatkan bahwa politik dalam Islam bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan bentuk pengabdian. Reputasi pemimpin tidak lahir dari strategi komunikasi yang canggih, tetapi dari konsistensi akhlak.

Di tengah era disinformasi dan propaganda digital, gagasan ini terasa seperti oase: mengembalikan politik pada etika, bukan sekadar elektabilitas.

Tak berhenti pada kritik, Prof. Anang menawarkan tiga gagasan penting yang menjadi inti pemikirannya:
Pertama, menggeser makna pencitraan dari simbol ke akhlak.
Politik Islam, menurutnya, tidak boleh berhenti pada simbol religius atau jargon keagamaan. Yang utama adalah bagaimana nilai kejujuran, keadilan, dan amanah benar-benar hidup dalam tindakan politik.

Kedua, menempatkan ulama sebagai penjaga etika, bukan sekadar “stempel politik”.
Ia menyoroti kecenderungan menjadikan tokoh agama sebagai alat legitimasi kekuasaan. Padahal, ulama seharusnya hadir sebagai penuntun moral yang menjaga demokrasi tetap sehat.

Ketiga, kampanye harus berbasis maslahat, bukan kultus figur.
Pertarungan politik idealnya tidak lagi soal siapa didukung siapa, tetapi apa agenda keummatan dan kebangsaan yang diperjuangkan.
Gagasan ini bukan sekadar wacana akademik, melainkan refleksi dari pengalaman panjangnya mengamati—bahkan pernah berada di dalam—dunia politik itu sendiri.

Dari Wartawan ke Guru Besar

Perjalanan hidup Prof. Anang seperti narasi klasik tentang ketekunan. Ia lahir di Desa Tebing Linggahara, Labuhanbatu, 4 Oktober 1974. Masa kecil hingga remaja dihabiskannya di Rantau Prapat, menempuh pendidikan dari SD hingga MAN. Pilihan hidupnya kemudian membawanya ke dunia komunikasi Islam di UINSU—kampus yang kelak menjadi rumah besar bagi seluruh jenjang pendidikannya, dari sarjana hingga doktor.

Namun, jalannya tidak lurus sebagai akademisi sejak awal.
Ia pernah menjadi wartawan, bahkan mengantongi sertifikat Uji Kompetensi Wartawan Utama dari Dewan Pers. Dunia jurnalistik membentuk kepekaan dan ketajaman analisisnya. Di kalangan sesama wartawan, ia bahkan pernah dijuluki “Profesor Berita”—sebuah julukan yang kini terasa seperti isyarat masa depan.

“Dulu mereka memanggil saya profesor karena banyaknya berita yang saya tulis. Hari ini, saya menjadi profesor sesungguhnya,” ujarnya, mengenang dengan nada haru.

Selain sebagai jurnalis, putra pasangan Saibon AS (alm) dan Jamilah SM (almh) ini, pernah mencurahkan tenaga dan pikirannya sebagai aktivis. Ia juga sempat aktif sebagai politisi dan aktivis organisasi, termasuk di lingkungan Muhammadiyah. Pengalaman itu memperkaya perspektifnya dalam melihat komunikasi politik—tidak hanya dari teori, tetapi juga praktik.
Akademisi yang Produktif dan Berpengaruh

Sebagai dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU, Prof. Anang dikenal produktif. Ratusan tulisan opini telah ia hasilkan, ditambah buku-buku yang membahas komunikasi politik, politik Islam, hingga kebijakan publik.

Suami Evi Sakdiah S.Ag, M.Sos dan ayah empat putra — M Choirur Rais Alvizar (25), M Hafiz Alvizar (21), M Tahfif Alvizar (19) dan M Fikri Rizki Alvizar (16) — ini
juga aktif sebagai narasumber dalam berbagai forum, termasuk diskusi penyusunan Indeks Demokrasi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik Sumatera Utara.
Di kampus, ia mengemban amanah sebagai Wakil Dekan III FDK UINSU periode 2023–2027, sekaligus mengajar di berbagai jenjang, termasuk pascasarjana.

Dedikasinya tidak hanya pada pengajaran, tetapi juga pembinaan generasi akademisi berikutnya.

Pengukuhan guru besar sering kali dipahami sebagai puncak karier akademik. Namun bagi Prof. Anang, momen itu justru menjadi titik awal tanggung jawab yang lebih besar.

Ia tidak hanya membawa gelar, tetapi juga gagasan—tentang bagaimana politik seharusnya dijalankan: dengan akhlak, kejujuran, dan orientasi pada kemaslahatan.

Di tengah wajah politik yang kerap riuh oleh pencitraan semu, suara seperti ini menjadi penting. Sebab, seperti yang ia tekankan, citra sejati tidak dibangun dari ilusi, melainkan dari integritas yang hidup dan konsisten. (KC)

redaksi

jurnalistik yang jujur anti hoax & Fitnah, Berimbang & tepat sasaran menuju Era informasi damai dengan Solusi

Share
Published by
redaksi
Tags: uinsu

Recent Posts

KORSA : Hasyim SE, Dinilai Figur Paling Siap Pimpin Kota Medan Kedepan

Jakarta, medanoke.com | Dewan Pimpinan Pusat Korps Rakyat Bersatu (DPP KORSA) menyampaikan pandangan tegas terkait…

4 jam ago

Transformasi Hukum Pidana Nasional Pasca Berlakunya KUHP & KUHAP Baru

Kajati Sumatera Utara Dampingi PLT. Wakil Jaksa Agung R.I Pada Orasi Ilmiah Di Universitas Sumatera…

16 jam ago

KAMAK Ragu KPK Akan Usut Keterlibatan Akbar Buchari Pada Sidang Korupsi DJKA Medan

Medan, medanoke.com | Kasus dugaan korupsi proyek jalur kereta api di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian…

24 jam ago

Pemuda Demokrat Sumut Kritik Musrenbang Provsu: Dinilai Belum Menyentuh Akar Persoalan Rakyat

Medan, medanoke.com | Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Sumatera Utara yang digelar di Medan pada…

24 jam ago

Nama Akbar Himawan Muncul di Sidang Korupsi DJKA Medan, Rudi Hutabarat: Ujian Bagi KPK

Deliserdang, medanoke.com | Persidangan kasus dugaan korupsi proyek jalur kereta api di lingkungan Direktorat Jenderal…

2 hari ago

Ombudsman Temukan Masalah Serius di Imigrasi Belawan: Dana Masyarakat Tertahan dan Akses Dipersulit

Medan, medanoke.com | Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia Provinsi Sumatera Utara kembali melaksanakan kegiatan Ombudsman On…

2 hari ago

This website uses cookies.