Medan, medanoke.com | Di kota yang dibangun dari perjumpaan berbagai etnis, bahasa, dan peradaban, Melayu bukan sekadar identitas masa lalu. Ia adalah akar yang masih menghidupi batang pohon bernama Medan. Dari Istana Maimun hingga alunan zapin yang sesekali terdengar di sudut kota, jejak Melayu tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu ruang untuk kembali bercerita.
Ruang itu kembali hadir melalui Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2026, sebuah festival budaya yang digelar di Lapangan Merdeka Medan pada 27–30 Juni 2026. Selama empat hari, jantung Kota Medan berubah menjadi panggung besar yang mempertemukan masyarakat Melayu dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Peresmian GEMES 2026 berlangsung meriah. Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas atau yang akrab disapa Rico Waas, menjadi salah satu tamu undangan yang hadir di atas panggung pembukaan bersama sejumlah pejabat dan tokoh budaya. Bahkan Walikota Medan tersebut sempat memetik gambus melantunkan nada “lancang kuning”. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap upaya pelestarian budaya Melayu yang telah menjadi bagian penting dari sejarah Kota Medan.
Dari pengamatan wartawan di lokasi, panggung utama dipenuhi penampilan tari-tarian tradisional yang berpadu dengan lantunan musik khas Melayu. Tabuhan gendang, petikan gambus, dan irama yang mengalun dari para pemusik seolah membawa ribuan pengunjung larut dalam nuansa kebudayaan yang hangat dan penuh semangat.
Antusiasme masyarakat pun begitu terasa. Diperkirakan sekitar seribu warga memadati kawasan Lapangan Merdeka untuk menyaksikan pembukaan festival. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua yang ingin menikmati suasana malam bersama keluarga.
Namun, tidak semua mata tertuju ke panggung. Di sisi lain kawasan festival, kerumunan warga tampak mengular di berbagai stan kuliner. Beragam hidangan yang dijajakan menjadi buruan pengunjung yang rela mengantre demi mencicipi berbagai cita rasa yang berasal dari seantero kota.
Tak sedikit pula keluarga yang memilih duduk santai di area terbuka sambil menikmati semilir angin malam. Sebagian lainnya sibuk mengabadikan momen melalui telepon genggam, berfoto bersama latar panggung yang gemerlap atau mengunggah suasana festival ke akun media sosial mereka. GEMES bukan hanya menjadi ruang pertunjukan budaya, tetapi juga ruang berkumpul dan berbagi pengalaman.
Lebih dari sekadar festival seni, GEMES merupakan perayaan atas sebuah peradaban yang telah berabad-abad menghubungkan pesisir Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga Thailand Selatan melalui bahasa, adat, sastra, perdagangan, dan agama.
Tahun ini, pengunjung disambut oleh tari kolosal, parade budaya, musik tradisional, orkestra Melayu, bazar UMKM, pameran kriya, hingga demonstrasi memasak bubur pedas—kuliner khas yang sarat filosofi kebersamaan. Ada pula lokakarya pembuatan tanjak dan tengkuluk, permainan budaya, serta prosesi adat yang kini mulai jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Festival ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan Melayu tidak pernah dibangun oleh satu wilayah. Ia lahir dari perjalanan panjang masyarakat pesisir yang saling bertukar bahasa, makanan, musik, dan nilai kehidupan. Karena itulah istilah serumpun memiliki makna yang begitu dalam. Ia bukan sekadar menunjukkan kesamaan bahasa, tetapi juga ikatan sejarah yang telah melintasi batas-batas negara modern.
Tak heran bila pemerintah kembali memasukkan GEMES ke dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa festival ini bukan hanya penting bagi Sumatera Utara, tetapi juga menjadi salah satu etalase budaya Indonesia di tingkat nasional.
Di balik panggung tari dan tabuhan gendang, denyut ekonomi lokal ikut bergerak. Perajin tanjak, penenun songket, pelaku UMKM, pedagang kuliner, hingga seniman lokal memperoleh ruang untuk memperkenalkan karya mereka kepada ribuan pengunjung. Festival budaya akhirnya tidak hanya berbicara tentang nostalgia, tetapi juga tentang bagaimana tradisi mampu menjadi sumber penghidupan masyarakat hari ini.
Bagi generasi muda, GEMES menghadirkan pengalaman yang mungkin tidak mereka dapatkan di ruang kelas. Mereka dapat melihat langsung bagaimana sebuah tanjak dilipat, mendengar pantun dilantunkan, menyaksikan musik gambus dimainkan, hingga mencicipi kuliner Melayu yang selama ini hanya dikenal dari cerita orang tua.
Di era media sosial yang serba cepat, festival semacam ini menjadi cara paling efektif mempertemukan tradisi dengan generasi digital. Budaya tidak lagi hanya tersimpan di museum atau buku sejarah, tetapi hadir sebagai pengalaman yang hidup, dapat disentuh, didengar, dirasakan, dan dibagikan kepada dunia.
Pada akhirnya, keberhasilan GEMES tidak hanya diukur dari ramainya penonton atau banyaknya delegasi yang hadir. Ia akan dikenang apabila mampu meninggalkan kesadaran baru bahwa budaya Melayu bukan warisan yang selesai dipamerkan, melainkan identitas yang harus terus dirawat, dipelajari, dan diwariskan.
Sebab sebuah kebudayaan tidak akan hilang karena usia. Ia hanya akan hilang ketika generasi penerus berhenti mengingatnya.(Pujo)
Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan bersama Direktur TI dan Operasional PT Bank Sumut (Perseroda)…
Medan, medanoke.com | Tokoh pemuda Sumatera Utara, Rudi Hutabarat, S.H., pada Sabtu, 27/6/2026, melontarkan kritik…
Kondisi replika Rumah Adat Batak di kawasan Monumen Raja Sisingamangaraja XII, Jalan Sisingamangaraja, Medan, saat…
Potongan video yang memperlihatkan warga memergoki sekelompok pria yang diduga anggota TNI saat diduga membawa…
Medan, medanoke.com | Di tengah persiapan menyambut Hari Jadi Kota Medan ke-436 pada 1 Juli…
Medan, medanoke.com | Ratusan massa yang tergabung dalam Generasi Negarawan Indonesia Sumatera Utara (GNI Sumut)…
This website uses cookies.