
Dua kisah dari dunia rakyat: Mbah Riyan Ibnu Harjo di Kudus dan Khairul Ghazali di Sumatera Utara yang menemukan jalan menuju dunia literasi.
Kutalimbaru, medanoke.com | Dunia kepenulisan tidak selalu lahir dari ruang kelas, kampus, perpustakaan, kantor berpendingin udara, atau meja kerja seorang akademisi.
Kadang, sebuah gagasan justru tumbuh dari tempat yang jauh lebih sederhana: proyek bangunan, kebun, jalan setapak, atau bahkan di atas pohon aren.
Di Kudus, Jawa Tengah, ada Mbah Riyan Ibnu Harjo. Sehari-hari ia menjalani kehidupan sebagai pekerja bangunan. Tangannya akrab dengan pasir, semen, batu bata, dan pekerjaan fisik yang menguras tenaga. Namun di balik pekerjaan itu, ia juga dikenal sebagai penulis.
Di Sumatera Utara, ada kisah yang tak kalah menarik. Namanya Khairul Ghazali, yang juga menggunakan nama Abu Ahmad Yasin. Ia menjalani kehidupan sebagai petani sekaligus penyadap aren. Namun perjalanan hidupnya membawanya jauh ke dunia literasi. Ia telah menghasilkan puluhan buku yang diterbitkan di Indonesia, sementara sejumlah karyanya juga diterbitkan di Malaysia dan tercatat dalam katalog perpustakaan di negeri jiran tersebut.
Dua orang.
Dua profesi yang tampak jauh dari gambaran umum tentang seorang sastrawan atau intelektual.
Yang satu mengangkat material bangunan.
Yang satu memanjat pohon untuk mengambil nira.
Namun keduanya memiliki satu kesamaan sederhana:
mereka menulis.
Dari Kuli Bangunan ke Dunia Literasi
Kisah Mbah Riyan memperlihatkan bahwa profesi sebagai pekerja kasar tidak pernah menjadi penghalang untuk memasuki dunia pemikiran dan kepenulisan.
Di balik pekerjaan fisik yang berat, ternyata ada ruang bagi imajinasi, kegelisahan, pengalaman, dan gagasan untuk tumbuh.
Kisah semacam ini sekaligus membongkar anggapan lama bahwa seorang penulis harus berasal dari lingkungan akademik, keluarga sastrawan, komunitas intelektual, atau kelompok sosial tertentu.
Tidak.
Seorang pekerja bangunan pun bisa menulis.
Sebab tulisan tidak mengenal seragam pekerjaan.
Ia tidak bertanya apakah tangan yang memegang pena sebelumnya memegang buku, komputer, cangkul, sekop, atau palu.
Yang dibutuhkan adalah pengalaman, pikiran, dan keberanian untuk menuangkannya menjadi kata-kata.
Dan kisah serupa ternyata tumbuh di Sumatera Utara.
Dari Pohon Aren ke Rak-Rak Buku
Di Deli Serdang, Sumatera Utara, terdapat sosok Khairul Ghazali.
Hari-harinya bersentuhan langsung dengan kehidupan pedesaan: kebun, pohon aren, nira, tanah, dan masyarakat.
Ia dikenal sebagai petani sekaligus penyadap aren.
Namun kehidupan di kebun bukanlah keseluruhan cerita tentang dirinya.
Jauh di balik aktivitas menyadap nira, terdapat perjalanan panjang sebagai penulis.
Menggunakan nama Khairul Ghazali maupun Abu Ahmad Yasin, ia telah menghasilkan puluhan buku. Sejumlah karyanya diterbitkan di Indonesia, sementara beberapa lainnya diterbitkan oleh penerbit Malaysia dan tercatat dalam katalog perpustakaan di negeri tersebut.
Di antara karya yang tercatat adalah Ilmu Penerang Hati, 30 Wasiat Imam Syafie, dan Semai Benih-Benih Syurga.
Namun perjalanan kepenulisan Khairul memiliki sisi lain yang tidak sederhana.
Ia merupakan mantan terpidana yang menjalani hukuman penjara selama lima tahun. Dari balik jeruji itulah lahir salah satu karyanya yang kemudian menarik perhatian: novel Kabut Jihad, yang diterbitkan oleh Pustaka Bayan, Bandung.
Novel tersebut berkisah mengenai sejumlah peristiwa yang terjadi di Sumatera Utara pada 2010, termasuk kasus perampokan CIMB Niaga Medan dan penyerangan Polsek Hamparan Perak. Di dalamnya, Khairul juga menuangkan pemikirannya mengenai makna jihad dalam Islam menurut sudut pandangnya sebagai penulis.
Karya tersebut tentu perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Mengisahkan peristiwa kekerasan tidak sama dengan membenarkan kekerasan. Novel tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan literasi dan pergulatan pemikiran Khairul dalam mengolah pengalaman hidupnya menjadi karya.
Pada halaman awal novel itu, Khairul menulis:
«“Ini adalah novel yang saya tulis dalam penjara. Dalam sel tiga kali empat meter, seorang diri, saya memahat kata demi kata.”»
Kalimat tersebut menggambarkan tempat yang sangat berbeda dari bayangan umum tentang ruang seorang penulis.
Bukan perpustakaan yang luas.
Bukan ruang kerja yang nyaman.
Bukan meja akademisi dengan tumpukan buku.
Melainkan sebuah sel berukuran tiga kali empat meter.
Di ruang yang terbatas itu, kata-kata justru menemukan jalannya.
Pengalaman tersebut membuat perjalanan Khairul sebagai penulis menjadi lebih kompleks. Ia tidak hanya menulis tentang kehidupan yang dilihatnya dari luar, tetapi juga mengolah pengalaman hidupnya sendiri menjadi sebuah karya.
Dan di sinilah Kabut Jihad menjadi bagian penting dari perjalanan literasinya: sebuah karya yang lahir dari pengalaman yang kontroversial, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana seorang manusia mengolah fase hidupnya menjadi tulisan.
Menyadap Nira, Sekaligus “Menyadap” Gagasan
Ada metafora yang terasa begitu dekat dengan kehidupan Khairul Ghazali.
Ketika berada di kebun, ia menyadap nira dari pohon aren.
Namun dalam perjalanan hidupnya sebagai penulis, ia seolah juga “menyadap” pengalaman menjadi gagasan.
Nira yang keluar dari pohon kemudian diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Begitu pula pengalaman hidup. Ia diserap, direnungkan, kemudian diolah menjadi tulisan yang memiliki nilai pengetahuan dan makna.
Kini, aren juga tidak hanya dilihatnya sebagai tanaman.
Di balik pohon aren terdapat potensi ekonomi masyarakat.
Nira dapat diolah menjadi gula aren dan gula semut. Buahnya dapat menjadi kolang-kaling. Budidayanya pun berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari pemanfaatan lahan sekaligus menjaga lingkungan.
Dari pohon aren, ia mencoba melihat peluang ekonomi.
Dari pengalaman hidup, ia menemukan bahan literasi.
Dua hal yang sepintas berbeda, tetapi sesungguhnya memiliki satu kesamaan: keduanya membutuhkan proses.
Tidak ada gula tanpa proses pengolahan nira.
Tidak ada buku tanpa proses pengolahan gagasan.
Penulis Tidak Harus Berpakaian “Sastrawan”
Kisah Mbah Riyan dan Khairul Ghazali menghadirkan perspektif lain tentang siapa yang pantas disebut penulis.
Penulis tidak harus selalu berada di belakang meja.
Ia bisa berada di proyek bangunan.
Ia bisa berada di kebun.
Ia bisa sedang memanjat pohon aren.
Ia bisa sedang memegang cangkul.
Bahkan bisa sedang mengangkut pasir dan batu.
Sebab profesi seseorang tidak menentukan kedalaman pikirannya.
Tangan yang kasar karena bekerja bukan berarti miskin gagasan.
Orang yang setiap hari berada di lapangan bukan berarti jauh dari dunia intelektual.
Sebaliknya, pengalaman yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat justru dapat menjadi sumber tulisan yang sangat kaya.
Seorang pekerja bangunan melihat bagaimana sebuah rumah didirikan dari fondasi.
Seorang penyadap aren melihat bagaimana sesuatu yang sederhana dari alam dapat diolah menjadi sumber kehidupan.
Seorang penulis melakukan sesuatu yang tidak jauh berbeda: mengambil serpihan pengalaman, mengolahnya, lalu menyusunnya menjadi sesuatu yang dapat dibaca dan dimaknai orang lain.
Dari Kudus ke Sumatera Utara
Kisah Mbah Riyan Ibnu Harjo di Kudus dan Khairul Ghazali di Sumatera Utara pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang dua orang yang memiliki profesi sederhana tetapi memilih untuk menulis.
Keduanya merupakan bagian dari wajah lain literasi Indonesia.
Wajah yang sering luput dari sorotan.
Selama ini, dunia kepenulisan lebih sering dikaitkan dengan kampus, pesantren, kantor media, komunitas sastra, atau ruang-ruang intelektual.
Padahal literasi dapat tumbuh di mana saja.
Ada penulis dari kampus.
Ada penulis dari pesantren.
Ada penulis dari dunia jurnalistik.
Ada penulis dari kalangan birokrat.
Tetapi ada pula penulis yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan.
Ada pula yang sehari-hari menjadi petani dan penyadap aren.
Mereka menunjukkan bahwa buku dan gagasan bukan monopoli kelompok tertentu.
Literasi adalah milik siapa saja yang mau membaca kehidupan, memikirkannya, lalu menuliskannya.
Dua Orang, Dua Jalan, Satu Dunia
Mbah Riyan menapaki jalan hidupnya melalui pekerjaan bangunan.
Khairul Ghazali menempuh jalan yang berbeda. Ia pernah melewati masa sebagai terpidana, menulis dari balik jeruji, kemudian menjalani kehidupan sebagai petani dan penyadap aren.
Jalan mereka tidak sama.
Lingkungan mereka berbeda.
Pengalaman hidup mereka pun tidak identik.
Namun keduanya bertemu pada satu dunia:
dunia tulisan.
Dan mungkin di situlah pesan paling penting dari dua kisah tersebut.
Jangan menilai seseorang hanya dari pekerjaan yang terlihat oleh mata.
Di balik seorang kuli bangunan, mungkin ada seorang sastrawan.
Di balik seorang penyadap aren, mungkin ada seorang penulis puluhan buku.
Di balik tangan yang setiap hari bekerja keras mencari nafkah, mungkin terdapat pikiran yang tidak pernah berhenti melahirkan gagasan.
Sebab peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang duduk di ruang-ruang besar dan berbicara tentang perubahan.
Kadang-kadang, peradaban juga dibangun oleh tangan-tangan yang bekerja dalam diam.
Ada yang membangun rumah dengan semen dan batu.
Ada yang menyadap nira dari pohon aren.
Ada yang pernah menjalani masa sulit di balik jeruji, lalu menuangkannya menjadi kata-kata.
Dan ada yang kemudian kembali ke kehidupan terbuka, menyentuh tanah, merawat kebun, serta mencari penghidupan dari pohon-pohon aren.
Mungkin itulah titik temu Mbah Riyan Ibnu Harjo dan Khairul Ghazali.
Yang satu membangun dengan tangannya.
Yang satu mengolah kehidupan dari pohon aren.
Keduanya kemudian meninggalkan jejak melalui tulisan.
Karena pada akhirnya, rumah yang dibangun akan menjadi tempat orang berteduh, pohon yang disadap akan menjadi sumber kehidupan, sementara tulisan yang baik dapat menjadi tempat orang lain menemukan gagasan.
Dan dari sanalah kita belajar: orang-orang yang setiap hari membangun rumah atau memanjat pohon aren, pada saat yang sama, mungkin sedang membangun sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya—sebuah jejak dalam ingatan manusia melalui buku dan tulisan.(KCU)





