Medan, medanoke.com | Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA Negeri di Sumatera Utara tahun 2026 kembali menjadi panggung drama tahunan yang tampaknya tak pernah kehilangan pemain lama. Bedanya, kali ini publik mendengar kabar bahwa permainan bukan lagi sekadar bisik-bisik lorong sekolah, melainkan sudah naik kelas menjadi “operasi senyap berjamaah”.
Khusus di wilayah Cabang Dinas I, aroma tak sedap disebut-sebut berembus kencang dari sejumlah SMA Negeri favorit di Kota Medan, mulai dari SMA Negeri 1, 2, 3, 4, hingga 5. Sekolah-sekolah yang seharusnya menjadi rumah bagi siswa berprestasi itu justru diduga berubah seperti gerbang eksklusif bagi murid-murid “berjalur langit kekuasaan”.
Konon, verifikator sekolah bukan lagi sekadar petugas administrasi, melainkan sudah mirip operator ruang kendali. Nilai siswa yang semula biasa saja, kabarnya bisa mendadak tampil menawan setelah melewati proses “penyesuaian nasib”. Scanner bekerja lebih keras daripada siswa belajar untuk ujian.
Permainan itu disebut tak berjalan sendiri. Ada dugaan keterlibatan oknum verifikator di kantor cabang dinas yang disebut mengatur ritme permainan. Nilai rapor hingga sertifikat prestasi diduga menjadi bahan yang bisa “dipoles” agar sesuai kebutuhan sekolah tujuan. Jika sebelumnya siswa harus bersaing lewat kemampuan akademik, kini yang ditakutkan publik justru kemampuan file PDF untuk berubah bentuk.
Ketua Umum Masyarakat Garuda Sumatera Utara (MARGASU), Hasanul Arifin Rambe, mengaku menerima berbagai informasi terkait dugaan permainan tersebut. Dirinya menilai kondisi SPMB tahun ini justru lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Masalah SPMB ini setiap tahun pasti terjadi. Tapi tahun ini lebih parah lagi. Dua tahun terakhir ini yang paling brutal dibanding sebelumnya yang sudah mulai membaik. Makin kasar mereka bermain, sampai verifikator sekolah pun diduga diperalat dari cabang dinas,” ungkap Hasanul.
Ironisnya, menurut Hasanul, dugaan praktik serupa disebut tidak hanya terjadi di Kota Medan. Nama SMA Negeri 1 Binjai, SMA Negeri 1 Stabat, SMA Negeri 1 Lubuk Pakam, hingga SMA Negeri 1 Tebing Tinggi juga ikut terseret dalam kabar miring tersebut. Seolah-olah sistem pendidikan kini memakai slogan baru: “Prestasi boleh biasa, asal koneksi luar biasa.”
Hasanul menilai pola permainan ini menunjukkan belum adanya perbaikan serius dari Dinas Pendidikan Sumatera Utara. Ia menyebut mekanisme verifikasi justru rawan dijadikan pintu masuk praktik titipan.
Nilai siswa diduga discan, diubah, lalu diverifikasi sesuai format tertentu yang telah disiapkan agar murid tertentu bisa lolos ke sekolah favorit. Sertifikat prestasi pun kabarnya ikut mengalami “keajaiban administrasi”. Dunia pendidikan tampaknya semakin kreatif: bukan lagi mencetak generasi unggul, melainkan mencetak dokumen unggul.
Lebih miris lagi, beredar kabar bahwa kepala sekolah yang mencoba melawan pola permainan tersebut justru mendapat tekanan. Jabatan disebut-sebut bisa terancam apabila tidak sejalan dengan irama “orkestra penerimaan siswa” yang sudah diatur.
Karena itu, MARGASU meminta aparat penegak hukum ikut memonitor pelaksanaan SPMB 2026, khususnya di Cabang Dinas I Sumatera Utara.
Hasanul juga meminta Kepala Cabang Dinas I, David Eltom Nainggolan, berhati-hati dalam proses penerimaan siswa baru.
“Kalau begitu, aparat penegak hukum bisalah fokus memonitor pergerakan David Eltom Nainggolan. Permainan kotor saat SPMB ini sangat tercium di Cabang Dinas I. Harus ada efek jera,” tegas Hasanul.
Di tengah semua tudingan itu, masyarakat tentu berharap sekolah negeri favorit tidak berubah menjadi showroom kekuasaan yang hanya bisa dimasuki mereka yang punya “akses khusus”. Sebab jika pendidikan saja sudah diajari bermain curang sejak gerbang masuk, jangan heran bila ke depan yang lahir bukan generasi emas, melainkan generasi yang percaya bahwa koneksi lebih penting daripada kompetisi.(**)
Medan-medanoke.com, Musyawarah Rapat Pemilihan Pengurus (RPP) Ranting Pemuda Pancasila Kelurahan Medan Tenggara, Kecamatan Medan Denai…
Medan, medanoke.com | Pemadaman listrik massal di wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) tampaknya bukan hanya…
Medan, medanoke.com | Koordinator Nasional Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KAMAK), Azmi Hadly, kembali melontarkan sindiran…
Medan, medanoke.com | Di saat masyarakat Sumatera Utara mulai akrab kembali dengan lilin, kipas tangan,…
Medan, medanoke.com | Polemik dugaan pungutan dana dalam kegiatan Jambore Nasional (Jamnas) XII Tahun 2026…
Medan, medanoke.com | Pulau Sumatera mendadak seperti ikut program hemat energi nasional. Jumat malam, 22…
This website uses cookies.