
Medan, medanoke.com | Deru roda kecil sepeda BMX berpadu dengan riuh sorak penonton memenuhi kawasan Jalan Masjid Raya, tepatnya di antara Masjid Raya Al Mashun dan Kolam Deli, Sabtu (1/8/2026). Sejak pukul 09.00 WIB, ratusan pembalap dari berbagai usia berkumpul mengikuti ajang BMX Drag Bike yang memperebutkan Piala Wali Kota Medan.
Lintasan yang biasanya dipadati kendaraan berubah menjadi arena adu kecepatan. Satu per satu peserta melesat meninggalkan garis start, disambut tepuk tangan dan sorakan penonton yang memadati sisi lintasan.
Kompetisi ini mempertandingkan sembilan kelas, mulai dari kategori anak-anak, remaja, dewasa, hingga Woman Class. Keikutsertaan ratusan peserta menunjukkan bahwa olahraga BMX masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Medan.
Namun, bukan hanya persaingan memperebutkan gelar juara yang menjadi daya tarik. Ajang ini juga menjadi ruang temu lintas generasi bagi para pecinta BMX.
Sejumlah nama yang telah lama dikenal di komunitas BMX Kota Medan tampak hadir, di antaranya Iwan Jeles, Oong, Ivan Malon, Adenan Ibenk, Putra Komo, dan beberapa pegiat BMX senior lainnya. Meski sebagian besar telah berusia di atas 50 tahun, semangat mereka tidak kalah dengan para pembalap muda. Kebiasaan rutin bersepeda membuat mereka tetap terlihat bugar, sehat, dan penuh energi.
Di sela-sela perlombaan, wartawan berbincang singkat dengan Putra Komo dan Adenan Ibenk. Putra Komo berhasil menjadi juara pada kelas 50 Up, kategori yang diperuntukkan bagi pembalap berusia 50 tahun ke atas. Kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berprestasi di lintasan.
Hingga pukul 20.45 WIB, perlombaan masih berlangsung. Walau malam telah menyelimuti arena, tetapi semangat peserta dan antusiasme penonton belum juga surut. Satu demi satu pembalap terus memacu sepedanya, menutup hari dengan semangat sportivitas dan kebersamaan.
Lebih dari sekadar perlombaan, BMX Drag Bike Piala Wali Kota Medan menjadi gambaran bahwa olahraga mampu menyatukan berbagai generasi. Di atas roda-roda kecil itu, para peserta bukan hanya mengejar catatan waktu tercepat, tetapi juga merawat persahabatan, menjaga kebugaran, dan membuktikan bahwa semangat berkompetisi tidak pernah mengenal batas usia.(Pujo)






