
Medan, medanoke.com | Menjelang gelaran AFF U-23 2026, suasana di Stadion Teladan kini bukan cuma dipenuhi suara alat berat dan pekerja proyek yang lembur hingga malam.
Namun, aroma lain juga mulai tercium: isu lama yang selalu setia hadir di setiap musim pembangunan yang dipegang Perkim — dugaan “pengkondisian proyek”.
Di tengah upaya Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (PKPCKTR) yang mati-matian mengebut revitalisasi Stadion Teladan, sorotan tajam justru datang dari luar lapangan.
Koordinator Nasional KAMAK, Azmi Hadly, mengingatkan silahkan semangat mengejar target AFF, namun musim proyek jangan berubah menjadi festival “bagi-bagi paket”.
Menurut Azmi, publik tentu mendukung percepatan pembangunan Stadion Teladan demi menjaga marwah Kota Medan sebagai tuan rumah ajang internasional. Namun, kata dia, percepatan proyek jangan sampai dijadikan selimut untuk praktik pengaturan proyek yang diduga mulai ramai dibicarakan di kalangan rekanan.
“Semua mata sekarang tertuju ke Stadion Teladan karena AFF. John Lase memang terlihat kerja keras mengejar target stadion. Tapi jangan sampai euforia AFF ini malah dimanfaatkan untuk mengondisikan paket-paket proyek lain di Perkim,” ujar Azmi Hadly di Medan, Selasa (12/5/2026).
Azmi menyebut, isu yang berkembang di lapangan bukan lagi sekadar bisik-bisik warung kopi. Informasi yang beredar bahkan menyebut ada sejumlah proyek fisik tahun anggaran 2026 yang diduga sudah “punya tuan” sebelum proses lelang dimulai.
“Katanya ada paket yang belum tayang lelang, tapi orang-orangnya sudah keliling ukur lokasi. Kalau itu benar, tentu publik patut bertanya: ini proyek pemerintah atau sistem booking kursi?” sindirnya.
Ia menilai, kondisi semacam itu berbahaya karena dapat merusak kepercayaan publik terhadap pembangunan yang sedang digenjot Pemko Medan. Terlebih, nama Stadion Teladan kini sedang dijadikan simbol kesiapan Kota Medan menyambut AFF U-23 2026.
“Kasihan juga kalau Pak John Lase kerja siang malam mengejar stadion, tapi nama dinas ikut tercoreng karena ulah oknum-oknum yang bermain di belakang meja,” katanya.
Azmi pun mendesak Wali Kota Medan, Inspektorat, hingga aparat penegak hukum untuk tidak hanya sibuk memantau progres fisik stadion, tetapi juga ikut memeriksa “fondasi moral” di balik proyek-proyek yang berjalan.
“Stadionnya boleh megah, lampunya boleh terang, rumputnya boleh standar FIFA. Tapi kalau integritas dinasnya malah gelap-gelapan, ya percuma juga,” ucapnya.
Tak hanya itu, Azmi turut menyentil Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) agar tidak sekadar menjadi penonton di tribun kehormatan.
“Kalau APIP diam saja, publik bisa curiga jangan-jangan mereka ikut menikmati pertandingan tanpa beli tiket,” katanya dengan nada satire.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas PKPCKTR Kota Medan, John Lase, belum memberikan tanggapan terkait isu dugaan pengkondisian proyek tersebut.
Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp juga belum mendapat respons.
Sementara itu, revitalisasi Stadion Teladan terus dikebut untuk persiapan venue AFF U-23 2026 yang dijadwalkan berlangsung Juli mendatang. Pemko Medan menargetkan stadion rampung pada akhir Juni 2026 — semoga bersama itu pula transparansi ikut selesai dibangun.(**)