
Medan, medanoke.com | Di masa kejayaannya, Pasar Petisah bukan sekadar tempat jual beli. Pasar yang dikenal sebagai salah satu ikon perdagangan Kota Medan itu pernah menjadi simbol modernisasi pasar rakyat.
Kehadiran eskalator pada awal era 90-an bahkan menjadi kebanggaan tersendiri, menandai perpaduan konsep pasar tradisional dan modern yang kala itu tergolong maju.
Namun, waktu tampaknya berjalan lebih cepat daripada perhatian pengelola.
Dari pantauan di lokasi, Senin (22/6/2035), eskalator yang dulu terkesan mewah di zamannya kini tak ubahnya rangka besi tua yang berkarat. Fasilitas yang dahulu mengantar pengunjung naik dan turun antar lantai itu kini hanya menjadi tangga darurat yang mengundang rasa waswas setiap kali dilalui.
Seorang pedagang yang berjualan di sekitar eskalator mengaku kerusakan itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Dampaknya bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga berimbas langsung terhadap omzet pedagang di lantai dua.
“Sudah lama rusak, bang. Pembeli malas naik ke atas. Kami yang jualan di lantai dua jadi ikut sepi,” keluhnya.
Keluhan serupa datang dari pedagang lain. Mereka menilai kerusakan eskalator menjadi salah satu penyebab menurunnya aktivitas perdagangan di lantai atas. Padahal, menurut para pedagang, mereka sudah berulang kali menyampaikan aspirasi kepada pemerintah maupun DPRD Kota Medan agar fasilitas tersebut segera diperbaiki.
“Kami pernah menyurati dan beraudiensi dengan Wali Kota Medan serta DPRD Medan. Sampai sekarang belum ada realisasi. Kalau memang tidak diperbaiki, mungkin sekalian saja dijadikan monumen bersejarah,” sindir seorang pedagang yang mengaku sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Petisah.
Sindiran itu terdengar berlebihan, tetapi kondisi di lapangan justru membuatnya terasa masuk akal.
Saat menaiki eskalator yang sudah mati menuju lantai dua, terlihat hampir seluruh bagian dipenuhi karat. Beberapa bagian bahkan terasa goyah ketika diinjak. Pedagang yang melihat wartawan melintas hanya bisa mengingatkan agar berhati-hati.
Bukan hanya eskalator, pada beberapa bagian pasar terlihat toko-toko di dalam gedung, pada bagian atasnya ditutupi seng yang sepertinya untuk mencegah rembesan air dari lantai atas membasahi tempat mereka berjualan.
Pasar Petisah sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar di Kota Medan. Selama puluhan tahun, pasar ini menjadi tujuan utama masyarakat untuk berbelanja berbagai kebutuhan, mulai dari sandang, perhiasan, hingga kebutuhan rumah tangga. Namun, seiring berjalannya waktu, kejayaan tersebut perlahan memudar. Selain dihantam perubahan pola belanja masyarakat yang beralih ke platform digital, berbagai persoalan infrastruktur juga turut mempercepat penurunan aktivitas pasar.
Yang menjadi pertanyaan, jika fasilitas vital seperti eskalator dibiarkan mati bertahun-tahun, bagaimana upaya mempertahankan daya saing pasar tradisional yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi rakyat?
Upaya konfirmasi telah dilakukan dengan mendatangi kantor Direksi PUD Pasar Kota Medan. Namun, saat wartawan berada di lokasi, Direktur Utama PUD Pasar Kota Medan, Anggia Ramadhan, beserta jajaran direksi tidak berada di tempat. Hingga berita ini diturunkan, pihak PUD Pasar Kota Medan belum dapat dikonfirmasi terkait penyebab kerusakan eskalator maupun rencana perbaikannya.
Sementara itu, eskalator tua tersebut tetap berdiri membisu di tengah lalu lalang pedagang dan pembeli. Sesekali ada juga orang yang menggunakannya, tentu saja dengan berjalan kaki layaknya menaiki undakan tangga.
Saat berjalan di eskalator, bila kita menengadahkan wajah ke atas, akan tampak plafon yang sudah keropos termakan usia, hanya menunggu waktu kapan akhirnya copot dan terhempas ke bawah.
Dahulu tempat ini menjadi simbol kemajuan Pasar Petisah. Kini, ia lebih menyerupai monumen birokrasi yang bergerak—rapuh, terbengkalai, dan seolah menunggu perhatian yang entah kapan datangnya.(Pujo)