bumi manusia

Medanoke.com – Medan, Pramoedya Ananta Toer lahir pada tahun 1925 di Blora, Jawa Tengah. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara, tapi tak mebuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Beberapa karyanya lahir dari tempat ini, diantaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca).

Tetralogi Buru ditulis saat mendekam di kamp kerjapaksa tanpa proses pengadilan hukum di Pulau Buru. Hal ini mengisyaratkan bahwa Pram bukan hanya sekadar menulis dan meninggikan imajinasi semata, tapi dengan penguasaan pedalaman cerita yang dimaksud dengan penelusuran dokumentasi awal pergerakkan abad 20.

Masuk penjara Kolonial 3 tahun, Orde Lama 1 tahun dan 14 tahun saat Orde Baru. Ketika tahun 1979, Pram mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam perinstiwa 1965 tetapi masih dikenakan tahan rumah, tahan kota, tahan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun.

Novel Bumi Manusia sebagai periode benih dan kegelisahan di mana Minke sebagai aktor adalah manusia berdarah priyai yang semampu mungkin keluar dari kerangkeng kejawaannya dan menuju manusia yang bebas dan merdeka.

Minke mendapat julukan dari Robert Suurhof ‘philogynik’ mata keranjang yang bersekolah di HBS (Hoogere Burgerschool) dan berguru dengan Magda Peters. Usut punya usut, nama Minke merupakan nama ejekan yang dilayangkan oleh Meneer Ben Rooseboom guru sewaktu memasuki ELS (Europeesche Lagere School), dua tahun ia tinggal di kelas satu, gurunya sengaja mengejek dengan sebutan Minke yang belum mengetahui bahasa Belanda sepatah pun. Pernah ia tanyakan pada sang Kakek yang hanya mengetahui bahasa Jawa dan malah menyetujui julukan Minke. Dan perlahan nama aslinya lenyap.

Cerita dimulai pada tahun 1898, ketika itu Minke berusia 18 tahun. Kemudian Minke berkenalan dengan Annelies Mellema. Pada awalnya Minke sedikit ragu akan tantangan Robert Suurhof yang mengajaknya untuk menaklukan putri berdarah Belanda itu, namun dengan keberanian yang tinggi ia terima tantangannya. Sesampainya di rumah Tuan Mellema, hati Minke masih berhati-hati, ia merasakan ada gendang bermain dalam jantungnya yang setiap saat bisa terjadi pengusiran karena ia tak memiliki nama keluarga dan seorang pribumi pula. Dalam keadaan cemas tak menentu, Minke masih sanggup mengagumi dan memuja kecantikan Annelies.

Saat itu pula Minke bertemu dengan Nyai Ontosoroh yang merupakan buah bibir Wonokromo. Dalam keterasingannya melihat seorang wanita berkulit langsat, lalu bicara Belandanya cukup fasih, baik dan beradab; sikapnya pada anaknya halus, bijaksana, terbuka. Nyai yang satu ini tidak bisa dikatakan bodoh; ia seperti wanita Eropa tulen. Namun, kebingungan menyelimuti dalam keadaan tak terduga. Pasalnya, Nyai lebih sering dianggap tidak mengenal perkawinan syah, melahirkan anak-anak tidak syah, sejenis manusia dengan kadar kesusilaan rendah, menjual kehormatan untuk kehidupan senang dan mewah.

Minke punya sahabat namanya Jean Marais, yang memperingatkan untuk menguji pendapat umum, Jean memandang jika pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, bila benar, dan sebaliknya. “Kau terpelajar, Minke, seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu,” mendengar peringatan dari sahabatnya, Minke memberanikan diri untuk tinggal bersama dengan Nyai serta menguji benar tidaknya pendapat umum tentang gundik.

Novel Bumi Manusia merupakan cerita yang memberi pelajaran pada kita bahwa melalui karakter Nyai Ontosoroh; wanita haruslah berpengetahuan tinggi agar mampu melahirkan generasi yang beradab dan mampu melawan kedzaliman. Selasa (4/1/2022) (Jeng)