
Deli Serdang, medanoke.com | Di tengah hamparan hijau Pesantren Al Hidayah, Kabupaten Deli Serdang, langkah mantan Penjabat (Pj) Wali Kota Banda Aceh, Almuniza Kamal, menyusuri kebun aren pada Minggu (19/7/2026) bukan sekadar kunjungan biasa. Ia datang membawa harapan besar: menemukan model pengembangan tanaman aren yang dapat diterapkan di Aceh sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan pascabanjir besar 2025.
Kunjungan studi banding tersebut menjadi ruang belajar tentang bagaimana pohon aren dapat berperan ganda, sebagai tanaman konservasi yang menjaga kelestarian alam sekaligus sumber ekonomi yang menghidupi masyarakat.
Almuniza Kamal disambut langsung oleh Pimpinan Pesantren Al Hidayah, Ustadz Khairul Ghazali. Di kawasan Rumah Aren Al-Hidayah, keduanya berdiskusi mengenai pengembangan budidaya aren secara terpadu, mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pengolahan berbagai produk turunannya.
Rumah Aren Al-Hidayah yang berada di bawah binaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) telah menjadi salah satu pusat pembelajaran pengembangan komoditas aren berbasis pesantren. Di tempat inilah ribuan bibit aren dibudidayakan sebagai bagian dari program konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kami datang untuk belajar dari pengalaman Pesantren Al Hidayah dalam mengembangkan aren secara terpadu. Harapannya, konsep ini dapat diterapkan di Aceh sebagai bagian dari rehabilitasi kawasan hulu dan daerah aliran sungai, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi berbasis aren,” ujar Almuniza Kamal.

Menurutnya, aren memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga mampu menjaga struktur tanah, meningkatkan infiltrasi air, mengurangi erosi, serta mendukung upaya mitigasi bencana banjir di masa mendatang.
Sementara itu, Ustadz Khairul Ghazali menjelaskan bahwa pengembangan aren di Pesantren Al Hidayah tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan menjaga kelestarian alam.
“Selain menghasilkan produk bernilai ekonomi seperti gula aren, kolang-kaling, dan berbagai olahan lainnya, aren juga sangat efektif dalam menjaga kelestarian tanah dan sumber daya air,” jelasnya.
Bagi Aceh, yang masih terus berupaya memulihkan kawasan terdampak banjir besar 2025, pengalaman Pesantren Al Hidayah menjadi inspirasi bahwa rehabilitasi lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat. Pohon aren, yang selama ini akrab dengan kehidupan masyarakat Nusantara, kembali menunjukkan potensinya sebagai simbol harmoni antara alam dan kesejahteraan. (KCU)






