
Medan, medanoke.com | Beberapa hari terakhir, warga Kota Medan kembali menghadapi ujian yang tampaknya sudah menjadi langganan setiap kali cuaca memburuk: hujan deras disertai pemadaman listrik di berbagai wilayah.
Pada Rabu malam, 3 Juni 2026, hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur hampir seluruh kota memicu gangguan kelistrikan di sejumlah kawasan. PLN menyebut cuaca ekstrem menjadi salah satu penyebab terganggunya pasokan listrik.
Namun bagi warga, persoalannya bukan sekadar lampu yang padam. Pemadaman listrik berarti aktivitas rumah tangga terhenti, jaringan internet terganggu, pekerjaan tertunda, usaha kecil kehilangan pelanggan, dan sebagian masyarakat harus menghadapi malam dalam kondisi gelap gulita.
Kondisi ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Sumatera Utara mengalami blackout besar pada 22 Mei lalu yang membuat listrik padam serentak hingga ke Medan dan sejumlah daerah lain. Saat itu, aktivitas ekonomi, layanan keuangan, hingga komunikasi masyarakat ikut terganggu.
Dari laporan warga di berbagai wilayah kepada awak media, pemadaman kali ini terjadi secara berulang di beberapa kawasan ketika hujan turun. Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai ketahanan infrastruktur kelistrikan menghadapi cuaca ekstrem yang memang lazim terjadi di Medan pada musim penghujan.
Para ahli kelistrikan menyebut cuaca buruk, pohon tumbang, gangguan jaringan distribusi, hingga kerusakan transmisi merupakan faktor yang kerap memicu pemadaman meluas.
Yang menarik, pemadaman tidak hanya dirasakan masyarakat umum. Pada Jumat, 5 Juni 2026, sekitar pukul 19.00 WIB, awak media yang sedang berada di lokasi melaporkan bahwa listrik padam di kawasan Kantor Gubernur Sumatera Utara dan lingkungan sekitarnya. Peristiwa tersebut terjadi ketika cuaca sedang buruk dan hujan deras mengguyur Kota Medan.
Jika pusat pemerintahan provinsi saja ikut merasakan gelap, maka dapat dibayangkan bagaimana kondisi warga di berbagai sudut kota yang harus menghadapi situasi serupa tanpa dukungan fasilitas cadangan listrik.
Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Pengalaman blackout sebelumnya menunjukkan ATM sulit digunakan, jaringan telekomunikasi melemah, pelaku usaha merugi, dan masyarakat harus mencari berbagai alternatif penerangan. Bahkan pada pemadaman besar Mei lalu, toko penjual genset di Medan dilaporkan diserbu warga yang khawatir kejadian serupa kembali terulang.
Di tengah hujan deras, jalanan yang macet, drainase yang belum sepenuhnya mampu mengatasi genangan, dan ancaman pohon tumbang, padamnya listrik seolah menjadi pelengkap penderitaan warga Medan. Kota metropolitan terbesar di luar Pulau Jawa itu mendadak kembali pada situasi yang sangat mendasar: menunggu lampu menyala sambil berharap hujan segera reda.
Ironisnya, setiap kali listrik kembali menyala, warga bersorak gembira. Bukan karena mendapat layanan baru, melainkan karena layanan yang seharusnya selalu tersedia akhirnya kembali hadir. Sebuah pengingat bahwa di Medan, terkadang kemewahan paling sederhana bukanlah teknologi canggih atau gedung megah, melainkan sebuah lampu yang tetap menyala ketika hujan mengguyur.
Terpisah, Darma Saputra Manager Komunikasi & TJSL PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara saat dikonfirmasi via WhatsApp tidak membalas, ditelpon juga tidak bisa.(Pujo)