
Medan, medanoke.com | Pulau Sumatera mendadak seperti ikut program hemat energi nasional. Jumat malam, 22 Mei 2026, listrik padam serentak di banyak wilayah — mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Lampung hingga sebagian Sumatera Selatan. Jalanan gelap, sinyal megap-megap, lampu merah berubah jadi hiasan tiang semata, dan rakyat kembali akrab dengan lilin serta kipas manual bernama “koran bekas”.
Dari pesan-pesan yang beredar di berbagai platform media sosial, PLN menjelaskan gangguan diduga berasal dari sistem interkoneksi transmisi Sumatera, khususnya jalur SUTET 275 kV Linggau–Lahat yang disebut sebagai “urat nadi” kelistrikan Sumatera. Ada dugaan sambaran petir, ada juga cerita penebangan pohon dekat jaringan listrik. Negeri ini memang unik: pohon ditebang, yang tumbang malah aktivitas masyarakat.
Akibat gangguan itu, sistem proteksi otomatis bekerja memutus aliran listrik demi mencegah kerusakan lebih besar. Bahasa sederhananya: daripada pembangkit rusak, rakyat dulu yang disuruh meditasi dalam gelap.
Di berbagai daerah, warga panik sekaligus pasrah. Ada yang buru-buru mencari lilin, ada yang mendadak sadar power bank belum diisi, dan ada pula yang baru tahu tetangganya ternyata wajah aslinya berbeda tanpa cahaya lampu LED. Di Aceh suasana kota sempat gelap gulita, di Medan warga berbondong-bondong dengan membawa charger memenuhi berbagai warkop yang menggunakan genset. Di Pekanbaru, lampu lalu lintas ikut padam sehingga pengendara kembali menggunakan sistem kuno: saling tatap dan berharap tidak tabrakan.
Yang paling menarik tentu reaksi warganet. Media sosial langsung berubah menjadi posko pengungsian digital. Sebagian bertanya penyebab blackout, sebagian lagi mulai berteori bahwa ini latihan hidup sederhana menuju era net zero emission. Ada pula yang bercanda: “Kalau begini terus, hubungan yang renggang bisa akrab lagi karena satu-satunya hiburan tinggal ngobrol.”
Ironinya, di era semua serba digital, mati listrik kini bukan cuma soal lampu padam. Internet ikut lumpuh, sinyal telepon melemah, transaksi elektronik terganggu, dan warung kopi kehilangan fungsi utamanya: tempat numpang colokan. Modernitas ternyata sangat rapuh — cukup satu gangguan transmisi, seluruh pulau mendadak kembali ke mode tahun 1993.
PLN menyatakan proses pemulihan dilakukan bertahap dan ratusan petugas sudah diterjunkan ke lapangan. Masyarakat tentu berharap peristiwa ini jadi evaluasi serius, bukan sekadar rutinitas “mohon maaf atas ketidaknyamanan”-musiman. Sebab bagi rakyat, listrik bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan denyut utama kehidupan. Ketika listrik mati, bukan cuma lampu yang padam — produktivitas, komunikasi, bahkan kesabaran ikut redup.
Menurut pantauan wartawan, hingga berita ini diturunkan listrik masih padam di kota Medan. Awak media masih duduk di sebuah warkop di jalan Bromo – Medan, demi numpang colokan. Para karyawan warkop terlihat lelah dengan ekspresi layu melayani pengunjung yang membludak, sekitar pukul 23.00 mereka mengatakan tidak lagi menerima orderan walaupun pelanggan masih terus berdatangan.
Pihak PLN belum dapat dikonfirmasi langsung, nomor layanan 123 mungkin sibuk sehingga tidak mengangkat saat ditelpon oleh rekan media.(Pujo/ Berbagai Sumber)