sabu

Berontak saat dirantai, Sugeng Hertanto tewas setelah belum lama menjalani rehabilitasi di Panti Rehab Meyros Jaya Plus

Medanoke.com – Langkat, Pasien Sugeng Hertanto diantar keluarganya untuk berhenti gunakan narkoba jenis sabu, namun tewas dianiaya oleh petugas Panti Rehabilitasi Meyros Jaya Plus di Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Peristiwa itu bermula ketika pasien dianggap berontak saat ingin dirantai kedua kakinya.

Kapolres Binjai AKBP Ferio Sano Ginting melalui Kasat Reskrim Polres Binjai, AKP Rian Permana menerangkan, korban meninggal dunia hanya beberapa jam setelah keluarganya mendaftarkan korban ke panti rehabilitasi itu, yakni Senin, 17 Januari 2022.

“Motif penganiayaan yang dilakukan pelaku, karena korban menolak dirantai oleh staf yayasan,” ucap Rian kepada wartawan, Jumat (21/01/2022).

Mantan Kasat Narkoba Polres Binjai itu mengungkapkan, pelaku menganiaya korban hingga meninggal dunia dengan cara memukul memakai gagang sapu serta meninju dan menendangi wajah hingga sekujur tubuh korban dengan berulang kali, sehingga mengakibatkannya muntah darah. Kemudian Sugeng di suruh istirahat di ruangan detofikasi.

Ironisnya, korban juga direndam dalam kolam supaya tidak berontak, sehingga para pelaku dengan leluasa menyiksanya.

“Dari kasus ini kita amankan 9 orang tersangka. Kita juga amankan barang bukti yang digunakan tersangka untuk menganiaya, diantaranya sapu, timba dan rantai,” tambahnya.

Para tersangka yang ditangkap, disangkakan melanggar pasal 338 subsider pasal 170 ayat (2) ke- 3 subsider pasal 351 ayat (3) KUHPidana, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (Jeng)

Medanoke.com – Medan, Berdasarkan laporan warga, lokasi peredaran narkoba di Kecamatan Medan Tuntungan digerebek polisi. Petugas menangkap 5 (lima) orang pemuda diduga pecandu narkoba dan menyita ratusan plastik kip sabu, alat isap sabu, timbangan elektik serta empat senjata tajam. Jumat (21/01/2022).

“Dari laporan warga kita turun dan melakukan penggerebekan di lokasi,” kata Kasat Narkoba Polrestabes Medan Kompol Rafles Marpaung.

Petugas polisi yang berpakaian preman langsung masuk ke dalam gubuk yang berada di pinggir sungai. Mengetahui kedatangan polisi, sejumlah pria lari tunggang langgang.

Akhirnya mereka melompat ke Sungai Belawan guna menghindari kejaran polisi. Petugas pun tak segan menekan pelatuk senjatanya ke udara, namun sejumlah pria itu apatis.

Selanjutnya, penyisiran dilakukan dan petugas berhasil mengamankan lima orang pria dan langsung dilakukan tes urine, hasil positif narkoba. Tak hanya itu, polisi juga membongkar gubuk yang dijadikan tempat memakai sabu.

“Nantinya kita akan bangun posko untuk memantau lokasi,” pungkas Rafles. (Jeng)

Medanoke.com – Medan, Bripka Ricardo merupakan anggota dari Satgas (satuan tugas) Narkoba Polrestabes Medan. Dirinya didakwa mencuri uang barang bukti senilai Rp650 juta bersama rekan-rekannya yakni Matredy Naibaho, Toto Hartanto, Marzuki Ritongan dan Dudi Efni. Selain itu Ricardo juga didakwa menyimpan narkoba.

Berawal saat Matredy Naibaho, anggota Tim II Unit I Sat res Narkoba Polrestabes Medan mendapatkan informasi terkait keberadaan bandar narkoba yang akrab disapa Jus. Dengan dilengkapi Surat Perintah Tugas yang ditandatangani oleh Kasat Reserse Narkoba Polrestabes Medan, Oloan Siahaan, Matredy bersama Dudi Enfi (Ketua Tim), Ricardo Siahaan dan Marjuki Ritonga dengan mengendarai mobil opsnal Toyota Innova warna hitam, siap menggerebek rumah diduga menyimpan barang terlarang di Jalan Menteng VII Gang Duku, Kecamatan Medan Denai.

Para terdakwa yang melihat pagar rumah Jus terbuka dan langsung melakukan penggeledahan yang didampingi oleh kepala lingkungan. Saat itu mereka disambut oleh istri Jus, Imayanti.

Usai penggeledahan, para terdakwa menyita sejumlah koper berisi uang yang ditotal sampai Rp650 juta. Kemudian menjadi masalah, sebab barang sitaan tersebut dibawa ke Polrestabes Medan tanpa dilengkapi surat izin penyitaan dari ketua PN (Pengadilan Negeri) dan berita acara penyitaan.

Selanjutnya, uang hasil penggeledahan di rumah Jus dibagi-bagi oleh para terdakwa di Jalan Gajah Mada Medan. Matredy Naibaho kecipratan Rp200 juta, Rikardo Siahaan Rp100 juta, Dudi Efni Rp100 juta, Marjuki Ritonga Rp100 juta dan Toto Hartono Rp95 juta dan dipotong uang posko Rp5 juta.

Belakangan, penyelidikan kasus Imayanti telah dihentikan karena belum ditemukan bukti permulaan yang cukup, berdasarkan Surat Penghentian Penyelidikan Nomor: Surat Perintah/Lidik/183-a/VI/Res.4.2/2021 Res Narkoba tanggal 25 Juni 2021 yang ditandatangani oleh Kasat Res Narkoba Polrestabes Medan, Oloan Siahaan.

Pada tanggal 23 Juni 2021, Imayanti melalui anaknya, Rini Susanti membuat laporan ke Polda Sumut. Laporan tersebut menjelaskan bahwa Tim Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Medan yang dipimpin oleh Dudi Efni saat melakukan penggeledahan secara melawan hukum telah mengambil uang dari dalam tiga buah tas berwarna putih, krem dan coklat di plafon asbes rumah milik Jusuf dan Imayanti.

Dalam kesaksiannya saat sidang pada Kamis (6/1/2022), Matredy Naibaho mengungkapkan bahwa mantan Kanit Satu Res Narkoba Polrestabes Medan AKP Paul Simamora ada menerima uang Rp 350 juta dari terduga bandar narkotika Imayanti usai diamankan. Hal itulah kata Matredy yang membuat mereka berani membagikan uang Rp 600 juta hasil penggeledahan rumah Imayanti yang tak dilaporkan ke kantor usai penggeledahan.

“Kurang lebih 1 minggu di posko uang itu. Lalu Imayanti dilepaskan dengan tebusan Rp 350 juta, yang menerima Kanit Paul Simamora dan diketahui Kasat (Oloan Siahaan), jadi kami berani (membagi uang) kami merasa aman, lalu dibagilah uang ini bu, saya dapat Rp 200 juta. Yang lain Rp 100 juta,” ucapnya menjawab pertanyaan Majelis Hakim yang diketuai Ulina Marbun. (Jeng)